Rubrik : Bisnis dan Ekonomi
Peluang usaha membuat sandal dari limbah karpet karet
Kamis, 21 Februari 2008 - by : education
Laba Mengucur dari Sandal Berbahan Limbah Karpet
Peluang usaha membuat sandal dari limbah karpet karet
Avanty Nurdiana
posted by kontan on 02/20/08


JAKARTA. Sandal tak cuma bermanfaat sebagai alas kaki. Belakangan, sandal makin menjadi bagian tren mode. Semakin unik model dan warna sandal, orang yang memakainya semakin puas. Apalagi kalau modal sandal itu eksklusif, entah dari bahan atau modelnya.

Lihat saja sandal spon buatan Wahid. Bentuknya sebenarnya tak beda dari sandal yang lain. Yang unik adalah bahan spon dan pilihan warna yang dipakai. Bahan bakunya adalah spon sisa potongan karpet karet. Teksturnya yang bergelombang menimbulkan efek tak licin, nyaman dipakai di tempat basah.

Warnanya sangat cerah dan beragam. Hiasan bunga dan anyaman tali menjadi daya tarik sendiri, terutama bagi anak-anak dan dan remaja. Menurut Wahid, segmen ini memang menyukai sandal buatannya. Warnanya yang ngejreng, oranye, hijau muda, merah, dan lainnya, telah menjadi daya tarik yang kuat bagi produknya. Belum lagi bentuknya pun sesuai dengan selera anak kecil.

Wahid mulai menggarap pembuatan sandal spon dari sisa karpet karet ini sejak dua tahun silam. Saat itu, usaha jualan sepatu di pasar Kebayoran Lama yang telah lama dirintis, mulai sepi. Untuk bertahan hidup, ia berusaha mencari sumber penghasilan lain. "Maklum, orang sekarang lebih memilih berbelanja sepatu di pasar modern," keluhnya, pasrah.

Inspirasi membuat sandal spon warna-warni muncul ketika melihat banyak sekali limbah karpet yang tidak terpakai di dekat rumahnya di Kebayoran Lama. Karenanya, Wahid kemudian berinisiatif membuat sandal dari bahan itu. "Awalnya, saya cuma coba-coba, kok," ucapnya.

Hasilnya cukup lumayan. Sekarang, dalam seminggu, sedikitnya Wahid mampu menjual sandal dari limbah karpet ini hingga sebanyak 200 pasang. Jumlah itu baru pesanan tetap. Seringkali ia mendapat pesanan tidak tetap selepas pameran. O, ya, Wahid tak pernah melewatkan pameran produk kerajinan, seperti yang berlangsung di Menara BTN, JCC, dan Gedung Patra Jasa.


Belum punya mesin

Harga jual sandal hasil buatan Wahid relatif murah. "Saya menjual dengan harga mulai Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per pasang untuk sandal anak kecil," ucapnya. Sedangkan untuk ukuran dewasa, ia mematok harga Rp 25.000 hingga Rp 30.000 per pasang. Wahid bilang, ongkos produksi sandalnya hanya 50% dari harga jual.

Wahid mengatakan, produksi sandal tidak membutuhkan banyak bahan baku. Hanya ada dua bahan utama, yaitu lem dan limbah karpet karet. "Prosesnya masih sangat manual," katanya. Sampai saat ini, Wahid bahkan tak mempunyai mesin pembuat sandal. Semuanya dikerjakan dengan tangan.

Sekarang, Wahid mempunyai sepuluh karyawan. Selama seminggu, ia mengaku dapat memproduksi sandal sebanyak lebih dari 300 pasang. Kalau pesanan lebih dari itu, Wahid pun harus menambah tenaga kerja. Dia mengaku belum mampu membeli mesin pembuat sandal. Oh, iya, hasil produksinya tidak hanya sandal. Dari bahan yang sama, ia juga bisa membuat rumah boneka dan tas.

Yang jelas, dari hasil jualan sandal ini, dalam sebulan Wahid mampu meraih omset sebanyak Rp 20 juta dengan keuntungan bersih sepertiganya. Padahal, modal ketika mengawali usaha ini cuma Rp 100.000. Uang itulah yang ia pergunakan untuk membeli lem dan limbah karpet. "Dari situ, saya bisa menghasilkan 10 pasang sandal," katanya. Ia kemudian menjual dengan harga Rp 10.000 sampai Rp 15.000 per pasang.

Hal pertama yang harus dilakukan jika ingin membuat sandal seperti ini adalah membuat kepangan tali sandal. Selanjutnya, membuat cetakan pola sandal, menggunting hasil cetakan, dan merekatkannya dengan lem. Baru belakangan tahap finishing untuk merapikan tekstur sandal.

Jika Anda ingin membuka usaha serupa, Wahid menyarankan perlu perhatian sungguh-sungguh pada pemasaran produk. Pasalnya, sandal spon ini tak laku dijual di pasar tradisional. Ia mengatakan, kebanyakan pembeli adalah para pengunjung mal atau bazzar. Selain itu, jika tak mau keteteran memenuhi pesanan, sebaiknya pemula membeli mesin agar jumlah produksi bisa banyak.
:
Versi Online : /?pilih=news&aksi=lihat&id=214